TRIBUNHITS,SEMARANG – Keputusan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk menunjuk aktor Nicholas Saputra sebagai brand ambassador Tolak Angin memunculkan beragam respons dari publik. Langkah yang diumumkan pada Mei 2026 itu dinilai tidak sekadar strategi pemasaran, melainkan juga bagian dari upaya perusahaan memperkuat kembali kepercayaan masyarakat terhadap produk andalannya.
Nicholas Saputra dikenal sebagai salah satu aktor papan atas Indonesia yang memiliki citra kuat sebagai figur cerdas, berintegritas, dan selektif dalam menentukan pilihan karier. Reputasi tersebut membuat penunjukannya sebagai wajah baru Tolak Angin menjadi perhatian publik, terutama di tengah dinamika yang sempat terjadi terkait persepsi masyarakat terhadap produk herbal tersebut.
Aktor kelahiran 1984 itu merupakan lulusan Program Studi Arsitektur Universitas Indonesia dan dikenal luas sejak membintangi film “Ada Apa Dengan Cinta?” pada awal tahun 2000-an. Sepanjang perjalanan kariernya, Nicholas dikenal jarang terlibat dalam kegiatan promosi komersial secara berlebihan dan lebih banyak memilih proyek yang dianggap sejalan dengan nilai pribadi yang ia pegang.
Sikap selektif tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kehadirannya sebagai brand ambassador Tolak Angin langsung memicu berbagai diskusi di media sosial. Tidak sedikit warganet yang menilai keputusan tersebut memiliki makna lebih besar dibanding sekadar kerja sama promosi antara perusahaan dan figur publik.
Sorotan publik tidak lepas dari isu yang sempat berkembang pada awal 2026. Saat itu, media sosial diramaikan berbagai unggahan yang mempertanyakan kandungan eugenol yang berasal dari ekstrak daun cengkeh dalam produk Tolak Angin. Beberapa unggahan mengaitkan kandungan tersebut dengan potensi gangguan lambung, khususnya bagi penderita gastroesophageal reflux disease (GERD).
Meski berbagai klaim tersebut memunculkan perdebatan dan mendapat tanggapan dari sejumlah pihak, isu tersebut sempat menjadi perhatian publik serta memengaruhi persepsi sebagian konsumen terhadap produk herbal yang telah lama beredar di Indonesia itu.
Dalam konteks tersebut, sejumlah pengamat pemasaran menilai pemilihan figur dengan tingkat kepercayaan tinggi seperti Nicholas Saputra merupakan langkah yang dapat dipahami dari perspektif komunikasi merek.
Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani, dalam peluncuran kampanye tersebut menyebut Nicholas sebagai sosok yang dikenal berhati-hati dan memiliki integritas yang kuat di mata masyarakat.
Menurutnya, karakter tersebut dinilai selaras dengan nilai yang ingin dibangun dan disampaikan perusahaan kepada konsumen.
Namun di sisi lain, sebagian pengguna media sosial justru melihat penunjukan Nicholas sebagai langkah yang sangat strategis karena citra pribadi sang aktor dianggap mampu memberikan efek psikologis positif terhadap persepsi publik.
Bagi sebagian kalangan, kehadiran Nicholas dapat dipandang sebagai representasi kredibilitas yang membantu memperkuat keyakinan konsumen terhadap produk. Di sisi lain, muncul pula pandangan kritis yang mempertanyakan apakah popularitas dan reputasi figur publik semestinya menjadi faktor utama dalam membangun kepercayaan terhadap suatu produk.
Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa dalam era digital saat ini, pemilihan brand ambassador tidak lagi sekadar persoalan popularitas. Figur publik yang dipilih juga membawa nilai, reputasi, hingga persepsi yang dapat memengaruhi cara masyarakat memandang sebuah merek.
Bagi Sido Muncul, yang selama puluhan tahun membangun posisi sebagai salah satu perusahaan jamu dan herbal terbesar di Indonesia, menjaga kepercayaan konsumen merupakan faktor penting. Industri herbal pada dasarnya sangat bergantung pada keyakinan masyarakat terhadap kualitas, keamanan, dan manfaat produk yang ditawarkan.
Karena itu, kehadiran Nicholas Saputra dinilai menjadi bagian dari strategi komunikasi perusahaan untuk memperkuat hubungan emosional dengan konsumen sekaligus menjaga citra merek di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Apakah langkah tersebut akan efektif dalam memperkuat kembali kepercayaan publik terhadap Tolak Angin, tentu membutuhkan waktu untuk dibuktikan. Namun satu hal yang jelas, penunjukan Nicholas Saputra menunjukkan bahwa reputasi dan kredibilitas figur publik masih menjadi aset penting dalam strategi pemasaran perusahaan besar di Indonesia. (Ant)












