Tribunhits – Marketplace selama bertahun-tahun menjadi salah satu pintu utama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Namun kondisi tersebut mulai berubah. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pelaku UMKM mengeluhkan meningkatnya biaya administrasi, komisi layanan, hingga beban promosi yang harus ditanggung penjual.
Fenomena ini memunculkan gerakan di kalangan pelaku usaha yang mulai mempertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap marketplace.
Menurut berbagai pelaku usaha digital, marketplace sebenarnya memiliki peran besar dalam mempercepat adopsi belanja online di Indonesia.
Seiring bertambahnya jumlah pengguna dan transaksi, model bisnis marketplace pun mulai bergeser menuju profitabilitas. Berbagai biaya layanan yang sebelumnya minim kini mengalami penyesuaian.
Meski demikian, meninggalkan marketplace sepenuhnya bukanlah keputusan yang mudah. Marketplace masih menjadi tempat berkumpulnya jutaan konsumen yang aktif mencari produk setiap hari.
Di sisi lain, membangun toko online mandiri juga memiliki tantangan tersendiri. Pelaku usaha harus mampu mendatangkan trafik secara mandiri, membangun kepercayaan pelanggan, serta mengelola pemasaran digital yang membutuhkan waktu dan biaya tidak sedikit.
Karena itu, sejumlah pengamat bisnis digital menyarankan pendekatan yang lebih seimbang.
Strategi multi-channel ini dinilai lebih realistis dibandingkan meninggalkan marketplace secara total. Dengan memanfaatkan berbagai saluran penjualan secara bersamaan, pelaku UMKM dapat mengurangi risiko ketergantungan pada satu platform sekaligus memperkuat daya saing bisnis mereka di tengah persaingan digital yang semakin ketat.
Bagi UMKM, tantangan saat ini bukan sekadar memilih bertahan atau keluar dari marketplace.













