Tribunhits -Dua kapal perang Amerika Serikat dilaporkan melintasi Selat Hormuz untuk pertama kalinya sejak konflik dengan Iran meningkat. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya pengamanan jalur strategis yang menjadi salah satu titik vital perdagangan minyak dunia.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan, kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat tersebut melintas tanpa mengalami gangguan. Informasi ini diperoleh dari tiga pejabat AS yang mengetahui langsung operasi tersebut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negaranya telah mulai melakukan langkah untuk “membersihkan” Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan melalui akun media sosial pribadinya.
“Kami sekarang mulai proses membersihkan Selat Hormuz,” tulis Trump. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk kontribusi bagi negara-negara lain yang bergantung pada jalur tersebut, seperti China, Jepang, dan Prancis.
Menurut Trump, sejumlah negara tersebut dinilai tidak memiliki keberanian atau kemauan untuk melakukan upaya serupa. Ia juga menegaskan bahwa posisi Iran dalam konflik saat ini terus melemah.
“Iran kalah besar,” ujar Trump dalam pernyataannya.
Meski demikian, Trump mengakui masih adanya potensi ancaman di kawasan tersebut, terutama dari ranjau laut yang diduga dipasang oleh Iran. Ancaman ini dinilai dapat membahayakan kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah global diketahui melewati wilayah ini setiap harinya. Kondisi keamanan di kawasan tersebut kerap menjadi perhatian internasional karena berpengaruh langsung terhadap stabilitas harga energi dunia.
Sejauh ini belum ada laporan gangguan atau insiden selama proses pelayaran dua kapal perang AS tersebut. Namun, situasi di kawasan Teluk masih dinilai berisiko tinggi seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Pengamat menilai, langkah militer AS di Selat Hormuz dapat mempertegas posisi Washington dalam menjaga jalur perdagangan global. Di sisi lain, keberadaan ranjau laut tetap menjadi faktor yang berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut jika tidak segera ditangani.













