Tribunhits – Air kini bukan sekadar kebutuhan hidup, tapi sudah diperlakukan seperti komoditas bernilai tinggi layaknya minyak dan emas. Para miliarder dunia, dari Bill Gates hingga taipan agribisnis Stewart Resnick, disebut-sebut tengah gencar membeli lahan pertanian dan cadangan air di berbagai belahan dunia.
Fenomena ini mengemuka seiring data PBB yang mengungkap krisis air global kian mengkhawatirkan. Hingga 26% penduduk dunia belum memiliki akses air bersih, dan diprediksi 2,4 miliar orang akan menghadapi kelangkaan air pada 2050. Ironisnya, air menutupi 71% permukaan bumi, tapi kurang dari 1% yang layak konsumsi.
Di sisi lain, laporan menunjukkan bursa berjangka Chicago sudah memperdagangkan air sejak 2020. Para pengamat menyebut ini sinyal bahwa air mulai diperlakukan seperti komoditas strategis masa depan.
T. Boone Pickens, taipan minyak asal Texas, bahkan menggelontorkan lebih dari USD 100 juta untuk membeli hak atas air tanah di negara bagian itu. Sementara itu, pasangan Stewart dan Linda Resnick menguasai salah satu bank air terbesar di California, yang digunakan untuk irigasi lahan pertanian mereka seluas puluhan ribu hektare.
Bill Gates pun tak luput dari sorotan. Pendiri Microsoft ini tercatat sebagai pemilik lahan pertanian terbesar di Amerika Serikat. Di banyak wilayah, kepemilikan lahan otomatis berarti memiliki hak air, termasuk ratusan sumur produktif di bawah tanah.
Kekhawatiran muncul ketika privatisasi air dianggap bisa mengorbankan hak dasar manusia. Sejumlah negara berkembang pernah mengalami tarif air melonjak usai pengelolaan diserahkan ke swasta, memicu protes warga miskin yang kesulitan membeli air.
Meski begitu, tren ini diprediksi bakal terus berlanjut. Dengan proyeksi defisit air global 40% pada 2030, air bersih kian diperebutkan, baik untuk kebutuhan industri, pertanian, maupun rumah tangga. Para investor melihatnya sebagai peluang bisnis, sementara banyak pihak mengingatkan soal risiko ketimpangan akses bagi masyarakat kecil.












