Tribunhits – Di masa lalu, memperoleh gelar pendidikan tinggi sering dianggap sebagai tiket menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah.
Di berbagai negara, semakin banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang justru kesulitan mendapatkan pekerjaan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga melanda negara-negara maju yang selama ini dikenal memiliki pasar tenaga kerja yang kuat.
Di kawasan Uni Eropa, misalnya, tingkat pengangguran usia muda masih tergolong tinggi. Data menunjukkan rata-rata pengangguran penduduk berusia 15 hingga 24 tahun mencapai sekitar 14,8 persen pada pertengahan 2025. Angka tersebut berarti hampir satu dari tujuh anak muda belum memperoleh pekerjaan.
Beberapa negara bahkan mencatatkan tingkat pengangguran generasi muda yang jauh lebih tinggi, seperti Estonia, Spanyol, Swedia, hingga Finlandia.
Kondisi ini bukan semata disebabkan oleh lemahnya ekonomi, melainkan juga karena ketidaksesuaian keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri, proses transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja yang belum optimal, serta perbedaan kondisi pasar tenaga kerja di setiap wilayah.
Sebaliknya, negara seperti Jerman, Malta, dan Belanda mampu menjaga tingkat pengangguran muda tetap rendah. Keberhasilan tersebut didukung sistem pendidikan vokasi yang kuat, program magang yang terintegrasi dengan dunia industri, serta tingginya kebutuhan tenaga kerja terampil.
Persoalan serupa juga terjadi di Asia, terutama di China. Meski tingkat pengangguran muda sempat mengalami penurunan, jumlahnya masih tergolong tinggi. Perlambatan ekonomi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga meningkatnya jumlah lulusan universitas yang mencapai jutaan orang setiap tahun membuat persaingan mencari pekerjaan semakin ketat.
Fenomena ini bahkan melahirkan istilah “Rotten Tail Kids“, yang menggambarkan generasi muda berpendidikan tetapi belum mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai harapan. Banyak lulusan akhirnya menerima pekerjaan di luar bidang keahlian, bekerja dengan upah rendah, atau kembali tinggal bersama orang tua karena belum memiliki penghasilan yang memadai.
Pemerintah China pun mulai melakukan penyesuaian besar-besaran terhadap sistem pendidikan dengan menutup ribuan program studi yang dinilai kurang relevan dan membuka program baru di bidang kecerdasan buatan (AI), robotika, semikonduktor, serta teknologi strategis lainnya agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Indonesia ternyata menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Bank Dunia menilai Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Timur dan Pasifik yang menghadapi kesulitan dalam menyerap tenaga kerja muda. Secara statistik, sekitar satu dari tujuh anak muda Indonesia masih menganggur.
Makin Tahu Indonesia masalah tersebut tidak hanya dipicu oleh terbatasnya lapangan pekerjaan, tetapi juga karena masih adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha.
Data juga menunjukkan jumlah masyarakat yang putus asa mencari pekerjaan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena sulitnya anak muda mendapatkan pekerjaan kini menjadi tantangan global. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor industri menjadi kunci untuk memastikan generasi muda memiliki keterampilan yang relevan sehingga mampu bersaing di pasar kerja yang terus berubah.












